Ramadan di Palestine : Tetap Beriman di Tengah Luka yang Terbuka
Ramadan di Palestina—terutama di Gaza datang bukan dengan lampu-lampu hias dan meja penuh hidangan, tetapi dengan bunyi pesawat, reruntuhan, dan kecemasan yang tidak pernah benar-benar pergi. Sahur sering kali dilakukan dalam gelap, bukan karena ingin khusyuk, tetapi karena listrik terputus. Banyak keluarga hanya memiliki roti kering, sedikit air, atau makanan kaleng yang dibagi untuk beberapa hari. Krisis air bersih akibat rusaknya infrastruktur membuat sebagian warga harus menakar setiap teguk. Laporan UNICEF dan OCHA berulang kali menyebutkan bahwa akses air minum, bahan bakar, dan pangan berada pada tingkat kritis, terutama selama periode konflik intens.
Puasa dijalani bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan takut. Anak-anak berpuasa di tenda pengungsian, orang tua berpuasa sambil memikirkan ke mana harus berlindung jika serangan kembali terjadi. Banyak yang sakit, namun rumah sakit kewalahan—WHO menyatakan sistem kesehatan Gaza berada di ambang runtuh, dengan kekurangan obat, alat, dan tenaga medis. Di kondisi seperti itu, puasa tetap dijalani, bukan karena mudah, tetapi karena iman menjadi satu-satunya pegangan yang tersisa.
Menjelang Magrib, tidak ada hiruk-pikuk dapur seperti di banyak negara Muslim. Berbuka sering sangat sederhana—sekadar roti, sup tipis, atau kurma jika ada. Kadang berbuka dilakukan di antara reruntuhan, atau di sekolah yang dijadikan tempat pengungsian. Dan tidak jarang, waktu berbuka disertai sirene atau dentuman, memaksa orang-orang menghabiskan makanan dengan cepat, lalu berlindung. Namun di tengah keterbatasan itu, berbuka tetap dimulai dengan doa dan syukur, seolah mereka ingin berkata: “Kami masih hidup, dan kami masih beriman.”
Malam Ramadan seharusnya menjadi waktu tarawih dan ketenangan. Di Palestina, tarawih sering kali dilakukan di masjid yang sebagian rusak, di lapangan terbuka, atau di ruang pengungsian. Sebagian masjid hancur, sebagian lainnya dipenuhi jamaah yang datang bukan hanya untuk salat, tetapi untuk mencari rasa aman bersama. Anak-anak berdiri di samping orang tua, suara imam kadang kalah oleh suara pesawat, tetapi rakaat tetap diselesaikan. Tarawih menjadi bentuk perlawanan sunyi—bukan dengan senjata, tetapi dengan berdiri di hadapan Allah.
Di Yerusalem dan Tepi Barat, Ramadan juga tidak sepenuhnya bebas. Akses ke Masjid Al-Aqsa sering dibatasi, dengan pemeriksaan ketat dan pembatasan usia. Banyak yang ingin tarawih di Al-Aqsa harus berputar balik di pos pemeriksaan, menahan rindu dan air mata. Reuters dan berbagai lembaga HAM mencatat pembatasan akses ibadah ini terjadi berulang kali, khususnya pada hari-hari tertentu Ramadan.
Larut malam, ketika sebagian dunia terlelap, warga Palestina bangun untuk qiyamul lail. Bukan sedikit yang menangis dalam sujud—bukan hanya meminta keselamatan, tetapi menitipkan anak-anak, rumah yang telah hancur, dan masa depan yang tidak pasti. Di tempat-tempat paling gelap, doa-doa justru terdengar paling jujur.
Jika Ramadan di tempat lain adalah tentang menahan diri dari yang halal, maka Ramadan di Palestina adalah tentang bertahan hidup sambil tetap beribadah. Mereka berpuasa di tengah kekejaman, berbuka di tengah keterbatasan, dan salat tarawih di tengah ancaman. Namun justru dari sana dunia melihat satu hal yang tidak bisa dihancurkan oleh bom atau blokade, yaitu : iman yang memilih tetap berdiri, tetap sujud, dan tetap berharap kepada Allah.
ALLAHUAKBAR !
Teriring Doa selalu untuk saudara(i) di Palestine dari Indonesia.
*Rachmat Faisal Syamsu / Dosen Fakultas Kedokteran
Kampus UMI Makassar, Sulawesi-Selatan Indonesia.