H

H

"BAYI-BAYI" yang Lahir dari Rahim Ramadan


 

Ramadan telah selesai.

Takbir telah dikumandangkan. Ketupat dan semua “keluarganya“ telah dihidangkan. Pemandangan jalanan telah dipenuhi orang-orang yang kembali pulang. Masjid yang penuh mulai kembali lengang. Mushaf Al-Qur’an yang akrab perlahan terlipat rapi di raknya.

Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada menu Lebaran, baju baru, atau tradisi pulang kampung yaitu :

Siapa diri kita setelah keluar dari rahim Ramadan?

Hari raya Idul fitri 1 Syawal selalu diibaratkan dengan keadaan yang fitrah dimana seseorang kembali “lahir” suci bersih seperti seorang bayi yang lahir dari rahim ibunya. Ramadan sejatinya adalah rahim ruhani. Tempat manusia ditempa ulang. Tempat hati yang keras dilunakkan, nafsu yang liar ditundukkan, dan jiwa yang lama kusam dicuci perlahan dengan lapar, sujud, air mata, dan Al-Qur’an.

Lalu pertanyaannya apakah semua orang lahir kembali setelah Ramadan ? Apakah semua orang berhasil menajdi bayi yang suci bersih tanpa dosa ? 

Ternyata tidak semua yang keluar dari rahim lahir dalam kondisi yang sama, kami coba mengklasifikasikannya sebagai berikut ;

1. Ada bayi yang lahir segar, kuat, dan hidup.

2. Ada bayi yang lahir lemah tetapi masih punya harapan. 

3. Ada bayi yang lahir, lalu segera kehilangan kehidupan. 

4. Dan ada pula bayi yang sesungguhnya tak pernah benar-benar lahir.

Pertama, bayi yang benar-benar lahir baru

Inilah manusia yang paling beruntung. Ramadan tidak hanya lewat di perutnya, tetapi masuk ke dadanya. Ia keluar dari bulan suci dengan hati yang lebih lembut, pandangan yang lebih terjaga, lisan yang lebih hati-hati, dan langkah yang lebih ringan menuju kebaikan. Tandanya bukan terletak pada seberapa indah pakaian Lebarannya, melainkan pada apa yang tetap ia bawa setelah Ramadan pergi. Ia masih ingin membaca Al-Qur’an meski tak lagi satu juz sehari. Ia masih rindu masjid meski tarawih telah usai. Ia masih menjaga lisannya, masih mudah tersentuh oleh nasihat, dan masih merasa takut ketika hendak kembali pada dosa yang dulu pernah dianggap biasa.

Mereka inilah orang-orang yang benar-benar dilahirkan oleh Ramadan, bayi segar. Kuat, dan hidup.

Kedua, bayi yang lahir lemah, tetapi masih hidup

Ini adalah mereka yang tidak sekuat golongan pertama, tetapi masih membawa nyawa Ramadan dalam dirinya. Setelah Syawal datang, ibadahnya memang tak lagi seintens sebulan sebelumnya. Namun kebaikan itu tidak padam sepenuhnya. Ia mungkin tidak lagi bangun setiap malam, tetapi sesekali ia masih menyapa tahajud. Ia mungkin tak lagi khatam cepat, tetapi Al-Qur’an belum benar-benar hilang dari hidupnya. Ia goyah, tapi belum roboh. Ia tertatih, tapi belum menyerah.

Kelompok ini masih punya harapan besar. Mereka seperti bayi yang belum kuat berdiri, tetapi jantungnya masih berdetak. Mereka masih bisa tumbuh asal tidak dibiarkan mati oleh kelalaian yang perlahan.

Ketiga, bayi yang lahir, lalu segera mati

Inilah tipe yang paling sering kita jumpai dan paling harus kita takutkan. Selama Ramadan, mereka tampak hidup. Masjid mengenal wajah mereka. Al-Qur’an dibuka di tangan mereka. Bibir mereka basah oleh doa dan istighfar. Dari luar, semuanya tampak menjanjikan.

Tetapi begitu Ramadan pergi, semua itu runtuh terlalu cepat.

Masjid kembali terasa jauh. Al-Qur’an kembali berdebu. Dosa yang sebulan dijauhi mulai didekati lagi tanpa rasa bersalah. Seolah semua kebaikan itu hanya kostum musiman yang dipakai selama Ramadan, lalu dilepas begitu bulan itu selesai.

Ramadan bagi kelompok ini melahirkan suasana, tapi tidak melahirkan perubahan. Yang tumbuh hanya euforia, bukan takwa.

Keempat, bayi yang sesungguhnya tidak pernah lahir

Inilah golongan yang paling merugi. Mereka berpuasa, tetapi tidak benar-benar dibentuk. Mereka ikut Ramadan secara fisik, tetapi hati mereka tetap berada di luar pagar keberkahannya. Mereka menahan makan, tetapi tidak menahan amarah. Mereka ramai saat berbuka, tetapi sepi saat sujud. Mereka tahu waktu imsak dan magrib, tetapi tidak benar-benar tahu mengapa Allah mewajibkan puasa. Bagi mereka, Ramadan hanya mengubah jam makan—bukan arah hidup.

Padahal Allah telah menjelaskan tujuan puasa dengan sangat terang: “agar kamu bertakwa.” Jika takwa itu tidak tumbuh, maka ada yang gagal dari seluruh perjalanan sebulan itu.

Di sinilah Idul Fitri seharusnya dimaknai lebih dalam. Ia bukan sekadar hari kemenangan, melainkan hari evaluasi. Hari ketika manusia menatap dirinya sendiri dengan lebih jujur: apa yang sebenarnya lahir dari sebulan puasa ini? Menjadi bayi jenis apa kita ?

Ramadan adalah rahim. Ia tidak mungkin gagal membentuk. Yang sering gagal adalah kita karena terlalu cepat kembali pada kehidupan lama sebelum hasil tempaan itu sempat tumbuh. Karena itu, yang paling menyedihkan dari akhir Ramadan bukanlah perpisahannya. Yang paling menyedihkan adalah ketika kita keluar dari bulan suci itu tanpa benar-benar lahir menjadi manusia yang baru.

Kini Ramadan telah melahirkan kita.

Dan hidup kita setelahnya akan menjadi bukti paling jujur:

Apakah kita lahir sebagai manusia yang lebih dekat kepada Allah, atau hanya keluar sebagai manusia lama yang sempat singgah sebulan di bulan suci. 

Anda adalah orang yang paling tahu diri anda  sendiri. Menjadi jenis bayi apa anda kembali terlahir. Selamat mengklasifikasikan “bayi” pada diri Anda semua. Salam hormat dan Istiqomah.



Subscribe to receive free email updates: