HARDIKNAS 2026 ; Kadang kita Mendidik Otak tetapi Lupa Menyentuh Hati
Oleh ; Dr.dr.Rachmat Faisal Syamsu,M.Kes,FISPH,FISCM (Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UMI, Makassar)
Pendidikan yang Menghidupkan Hati
Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Banyak yang berbicara tentang kurikulum, prestasi, dan kecerdasan. Namun ada satu hal yang sering terlupakan—adab. Padahal para ulama sejak dahulu telah mengingatkan:
“Ilmu tanpa adab adalah seperti api tanpa cahaya.”
Seorang murid boleh cerdas, tetapi tanpa adab, ia bisa melukai.
Seorang guru boleh pintar, tetapi tanpa keteladanan, ia bisa kehilangan makna.
Pendidikan sejati bukan hanya membuat seseorang tahu banyak, tetapi membuatnya tahu bagaimana bersikap, tahu kapan berbicara, dan tahu bagaimana menghormati.
Kisah yang Menggetarkan
Dikisahkan seorang murid dari kalangan tabi’in, ia berjalan jauh hanya untuk menuntut ilmu dari seorang guru besar. Namun setiap kali ia sampai di depan rumah gurunya, ia tidak langsung mengetuk pintu. Ia duduk di luar dengan penuh hormat, menunggu sampai gurunya keluar sendiri.
Ketika ditanya, mengapa ia tidak mengetuk saja,
ia menjawab:
“Aku takut mengganggu istirahat guruku.
Ilmu itu mulia, maka aku harus datang dengan adab.”
Dan hari ini…kita bisa belajar dari mana saja, kapan saja, dengan satu sentuhan jari. Namun sering kali kita lupa satu hal sederhana: cara menghormati ilmu dan orang yang mengajarkannya.
Untuk Murid
Hormati gurumu,
meski ia tidak sempurna. Karena bukan kesempurnaannya yang membuatmu belajar, tetapi keikhlasannya yang membuatmu berkembang. Jangan hanya cepat menjawab, tetapi belajarlah untuk mendengar dengan hati.
Untuk Guru
Didiklah dengan hati,
karena murid tidak hanya mengingat apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana ia diperlakukan. Satu kalimat yang lembut bisa mengubah masa depan anak. Satu sikap yang kasar bisa meninggalkan luka seumur hidup.
Untuk Kita Semua
Pendidikan hari ini mungkin mampu melahirkan banyak orang pintar, tetapi dunia tidak hanya butuh orang pintar. Dunia butuh orang yang:
- Tahu cara berbicara dengan santun
- Tahu cara menghargai perbedaan
- Tahu batas antara ilmu dan kesombongan
dan tahu bahwa semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin rendah hati
Penutup
Karena pada akhirnya, seorang murid akan lupa banyak pelajaran, tetapi tidak akan pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukannya.
Dan seorang guru mungkin lupa banyak muridnya, tetapi satu murid yang beradab, akan menjadi amal jariyah yang terus hidup.
Hari ini kita boleh bangga dengan ilmu, tetapi jangan sampai kita kehilangan adab. Karena sesungguhnya, ilmu mengangkat derajat, tetapi adab menjaga kemuliaannya.
Makassar, 2 Mei 2026.
Salam Takzim.
